Selasa, 28 April 2015

Hati Pertama: My Un-romantic Boyfriend

Kirana Sekar & Andy Arfian Wilatika

Aku memandang kesal ke arah depan. Kalian mau tau apa yang membuat aku kesal? Tuh, si Andy yang lagi asyik baca buku sambil ngasih pelajaran tambahan kimia ke adik kelas. Bayangin aja sih, dia tadi ngajakin aku ngedate, eh taunya ke perpustakaan umum dan udah ada lima orang adik kelas yang nungguin dia di perpustakaan.
            Kalian bakal bete gak sih kalau jadi aku? Bete kan? Yang bener aja deh, aku sama dia udah jadi mahasiswa dan dia masih mau ngajarin adik kelas kita dulu sewaktu di SMA, padahal kami udah beda tiga tahun sama mereka. Gimana aku gak keki coba? Aku mau ngedate Ndy... Bukannya ngeliatin kamu ngajarin tuh bocah-bocah! Mana cewek semua lagi. Huh.
            “Kak, aku gak ngerti yang di bagian sini, ini digimanain sih?” Cewek yang berambut bob bertanya kepada Andy.
            Gak usah rapat-rapat ke cowok orang juga kali Dek!
            “Mana coba liat?” Respon Andy, ia membaca buku milik cewek tadi dengan seksama. “Oh ini sih gampang, asal lo inget aja gimana teorinya. Kalau tekanan diperbesar, dia bertambah ke bagian dengan koefisien kecil, begitu juga sebaliknya. Sedangkan untuk volume, apabila dia diperbesar, dia akan bertambah ke bagian dengan koefisien besar dan ini berlaku juga sebaliknya.”
            Cewek tadi mengangguk-angguk dan ia kembali mengerjakan soal yang sengaja diberikan Andy untuk ia dan keempat temannya.
            “Kak, kalau yang ini, dia berarti cari pH kan Kak?” Kembali, salah satu dari lima cewek itu bertanya kepada Andy. Kini yang bertanya adalah cewek yang paling cantik di antara kelima cewek yang ada.
            “Iyap, tapi sebelumnya dicari pOHnya dulu, soalnya dia basa.”
            “Makasih Kak.” Dengan suara sok imutnya dia berterima kasih kepada Andy.
            Ih, sumpah ya, aku bete pangkat tak terhingga.
            “Ndy.” Kali ini aku berusaha mengalihkan perhatiannya dari buku.
            “Hm?” Ia sama sekali tidak mengalihkan perhatiannya kepadaku.
            “Ndy.” Panggilku lagi.
            “Hm?” Kembali ia merespon dengan hal yang sama seperti pertama.
            “Andyyyyyyyyyyyy.”
            “Jangan berisik Kar, ganggu yang lain.”
            Brak!
            Andy yang tidak teralihkan dari bukunya kini menatapku dengan wajah heran. Lima cewek yang sedang mengerjakan soal pun menatap ke arahku dengan bingung. Pengunjung-pengunjung di perpustakaan yang ada di sekitarku juga jadi menatap heran ke arahku.
            Sudahlah, kepalang tanggung karena aku menggebrak meja. Sekalian aja luapin semua emosi yang udah lama aku pendam.
            “Mending kita putus kalo gitu! Pacaran aja tuh sama buku dan adik-adik lo itu! Dasar cowok gak peka dan gak romantis!”
            Setelah berteriak dengan volume semaksimal mungkin. Aku berlari keluar dari perpustakaan dan memberhentikan taksi untuk pulang ke rumah.

- - - - -

Suara radio menemaniku sedari tadi. Sudah lima hari ini aku tidak bertemu Andy. Yah, sebenarnya aku yang menghindar. Setiap berpapasan dengannya, aku pasti selalu mencari cara agar aku tidak perlu bertegur sapa dengannya. Entah itu dengan memutar jalan, menunduk, atau pura-pura mengobrol dengan temanku.
            Jujur aja. Aku kangen Andy, tapi setelah kejadian aku pergi dari perpustakaan itu, ia sama sekali tidak menghubungiku. Bahkan datang ke rumah saja tidak. Aku benar-benar marah dan bete sama dia. Sampai aku bertanya-tanya, yang pacarnya dia tuh aku atau lima cewek yang diajarin sama dia waktu itu? Ah sudah, aku malas mengingat-ingatnya.

            I can’t sleep...
            Everything I ever knew
            Is a lie, without you...

            I can’t breath...
            When my heart is broke in two
            There’s no beat, without you

            You’re not gone, but you’re not here
            At least that’s the way it seems tonight
            If we can try to end these wars
            I know that we can make it right

            Iiih, ini lagu apasih. Kok ngeselin banget liriknya. Kan aku yang lagi marah sama Andy gara-gara dia gak perhatian, tapi kenapa sekarang aku yang ngerasa bersalah gini sama dia. Ah, gara-gara lagu ini.
            Dengan kesal aku mematikan radio. Membenamkan wajahku pada bantal kasur. Aku kesal sama Andy, tapi aku lebih kangen sama dia. Hiks.

- - - - -

Aku dan Shafa masuk ke dalam kantin kampus. Hari ini aku benar-benar galau, sekarang sudah genap seminggu Andy tidak menghubungiku. Apa dia benar-benar menganggap kami sudah putus ya? Aduh, memikirkannya saja aku sudah sedih. Seharusnya, aku tidak asal bicara saat kesal waktu itu.
            “Sekar! Liat, liat! Itu Andy bukan?” Shafa menyikut-nyikut lenganku. Membuatku mengikuti arah pandangnya.
            Ah, ya benar, itu Andy. Tapi dia sama siapa? Mereka hanya berdua dan mereka berbeda gender.
            “Bener kan itu Andy! Sama siapa tuh Kar?” Shafa kembali suara, membuatku kembali harus mengalihkan perhatian kepadanya.
            Aku hanya bisa menggeleng. Ya, aku memang gak tau.
            “Loh kok gak tau? Samperin gih Kar, masa lo biarin pacar lo berduaan sama cewek lain gitu aja?” Shafa memprovokasiku. Yah, cewek di sebelahku ini memang cukup unik. Entah dia kenapa, sampai sangat suka dengan sebuah keributan.
            “Gak ah, toh gue juga gatau sekarang status gue masih pacar dia atau bukan.” Ucapku sambil melenggang masuk ke dalam kantin meninggalkan Shafa yang masih kebingungan dengan ucapanku.
            Aku tidak peduli, aku terus berjalan sampai mendapatkan bangku yang nyaman untuk ditempati. Akhirnya aku menemukan kursi yang nyaman, segera saja ku jatuhkan diriku di atas kursi tesebut.
            Ngomong-ngomong Shafa mana ya, kok lama sih. Aku pun memeriksa ponsel, sembari menunggu Shafa sampai ke sini. Dasar deh anak itu, jalan kayak siput, seakan-akan kantin ini seluas Gelora Bung Karno jadi untuk sampai ke sini aja lama banget.
            Seseorang menjatuhkan dirinya di atas kursi dihadapanku. Akhirnya Shafa sampai juga.
            “Shaf, lama amat sih....”
            Mataku membulat, terkejut melihat sosok yang kini sudah terpampang nyata berada di depanku.
            “Kar, aku mau bicara sama kamu.”
            Aku membuang muka, mengacuhkan suara serta keberadaanya.
            “Kar, aku mau ngomong serius.”
            Ayolah Sekar, jangan sampai ketenanganmu terusik hanya karena mendengar suara cowok di depanmu ini.
            “Kirana Sekar.”
            Ah, dia curang. Dia melembutkan suaranya dan memanggilku dengan nama lengkap. Dasar cowok curang.
            “Kirana Sekar, aku mau bicara. Kamu mau dengerin aku kan?”
            Jangan dengarkan Sekar. Nanti pertahananmu runtuh.
            “Ih, Shafa mana sih? Kok lama banget.” Untuk memaksimalkan usahaku untuk mengacuhkannya, aku terpaksa bergumam sendiri seperti orang gila.
            Aku mencari-cari keberadaan Shafa di dalam kantin ini. Nihil. Kemana dia? Kok ninggalin aku sih? Loh, cewek yang tadi sama Andy juga udah gak ada. Ah lebih baik aku pergi juga dari sini.
            Aku menyandangkan tasku dan beranjak bangun dari kursi. Sebelum aku benar-benar bangkit, Andy menangkap pergelangan tanganku sehingga aku tidak bisa berdiri.
            “Kirana Sekar, ikut aku ya, sekali ini aja ikut aku, nanti kalau kamu gak suka, aku gak akan maksa-maksa kamu lagi. Oke?” Bujuknya sambil memandangku tepat di manik mata. Sial. Matanya mengunci mataku.
            Sepertinya aku terkena hipnotis. Lihat saja, aku mengangguk dan membiarkan Andy membawaku entah kemana.

- - - - -

Kami sekarang berada di luar kawasan kampus kami. Entahlah, aku masih belum bisa menebak kemana Andy akan membawaku. Aku meliriknya dari ekor mata, dia terlihat tenang-tenang saja. Apa orang itu gak ngerasa bersalah sama aku ya? Ah, sungguh, aku gak ngerti jalan pikiran Andy.
            “Nah udah sampai,” Ucapnya yang membuyarkan pandanganku terhadapnya. Ia memandangku sambil tersenyum. Dengan cepat aku memalingkan wajah. Aku harus tetap mempertahankan posisi marahku, jangan sampai sebuah senyuman melunturkan pondasinya. “Yuk turun!”
            Andy turun dari mobil. Membukakan pintuku sebelum aku sempat membukanya. Kembali dengan senyumannya ia memandangku. Ah, Andy, stop! Jangan buat aku semakin kangen sama kamu.
            “Ayo.” Dengak seenaknya dia menggandengku, tapi tanganku lebih seenaknya lagi karena dia tidak mau menuruti perintahku untuk menepis tangan Andy. Uh, tangan sama otak gak sinkron nih!
            Kami berdua menyusuri sebuah jalan setapak, ada beberapa rumput yang tumbuh dan membentuk seperti kelompok. Menurutku ini belum bisa disebut sebagai padang rumput karena jumlah rumputnya belum banyak.
            Sebuah kursi kayu terlihat di depan kami, ada dua kursi, di salah satu kursi tersandar sebuah gitar yang kukenali adalah gitar milik Andy. Andy membawaku untuk duduk di salah satu kursi, kemudian ia duduk di kursi lainnya sambil memangku gitar. Ia mulai memetik senar gitar.

            Day after day.
Time pass away.
And I just can’t get you off my mind.
Nobody knows, I hide it inside.
I keep on searching, but I can’t find.

The courage to show.
To letting you know.
I never felt so much love before.
And once again, I’m thinking about.
Taking the easy way out.

But if I let you go.
I will never know.
What my life would be,
Holding you close to me.
Will I ever see,
You smilling back at me.
How will I know?
If I let you go.

Night after night.
I hear myself saying
Why can’t this feeling just fade away?

There’s no one like you.
You speak to my heart.
It such a shame we’re world apart.

I’m too shy to ask.
I’m too proud to lose.
But sooner or later, I gotta chose.
And once again I’m thinking about.
Taking the easy way out.

But if I let you go.
I will never know.
What my life would be,
Holding you close to me.
Will I ever see,
You smilling back at me.
How will I know?
If I let you go.

Aku menatap sosok di depanku dengan tidak percaya. Ia meletakkan gitarnya dalam posisi semula. Ia berdiri, matanya masih terus menatapku tanpa berpaling. Senyumnya masih setia tersungging di bibirnya. Ia mengambil kedua tanganku, menggenggamnya erat.
            “Kirana Sekar, aku minta maaf. Maaf atas kekuranganku selama ini. Maaf karena belum bisa menjadi yang terbaik untuk kamu. Maaf karena aku belum mengerti kamu,” ucapnya pelan tapi tegas. “Aku sadar, selama ini belum menjadi sosok yang kamu inginkan. Aku menyesali itu semua. Jangan menghindar dari aku lagi, jangan pernah pergi dari aku lagi.”
            Aku masih menatap Andy dengan wajah tidak percaya. Aku terharu, tidak percaya, sedih dan merasa sedikit kesal dengannya. Dia benar-benar bisa mencampur-adukkan perasaanku.
            “Maafin aku ya?”
            Tak terasa sebulir air mata jatuh dari mataku. Astaga.
            “Maaf kalau udah nyakitin kamu. Aku minta maaf.” Ucapnya lagi.
            “Kenapa ga nelpon selama seminggu?” Hanya itu kata-kata yang bisa aku keluarkan.
            Lagi-lagi ia tersenyum. “Aku minta maaf. Ternyata aku butuh waktu selama seminggu untuk ngeyakinin diri aku sendiri kalau aku pantas untuk kamu.”
            “Aku kangen kamu Ndy....”
            Aku menghambur dalam pelukan cowok ini. Hangat. Seperti biasanya. Ah, betapa aku merindukan dirinya.
            “Permintaan maaf diterima?” tanyanya.
            “Yang di kantin tadi siapa?”
            Andy tersenyum. “Teman.”
            “Yakin teman?”
            “Tanya aja sama Shafa.”
            “Ih... Jadi Shafa tau?”
            Andy mengangguk. “Jadi, pemintaan maaf diterima?”
            Aku mengangguk. Kembali menenggelamkan wajahku di atas dadanya.
            “Kalau permintaan maaf sudah diterima, apa permintaan ini juga akan diterima?”
            Aku mendongak. Menatapnya dengan heran. Ia hanya tersenyum. Melepaskan pelukanku dan memposisikan dirinya bersimpuh di depanku. Tangannya merogoh saku celananya. Sebuah kotak beludru biru dikeluarkannya. Begitu kotak itu dibuka, aku kembali terkejut.
            “Will you be the only one for me until forever?”
            Cowok ini. Benar-benar. Ah, aku sangat-sangat mencintainya.
            “Yes, I will.”

            Ia mengeluarkan isi kotak tersebut yang berupa cincin dengan batu permata berbentuk lambang tak terhingga dan menyematkannya di jari manisku. Ya Tuhan, terima kasih telah membuatku bahagia hari ini. Aku harap, bahagia-bahagia lainnya menyusul di kemudian hari.

THE END

1 komentar: