Kamis, 30 April 2015

Hati Ketiga: I'll Always Next to You

Salisa Rahmadita & Bintang Timur


     You're reaching out,
     And no one hears you cry.
     You're freaking out again,
     'Cause all your fears remind you,
     Another dream has come undone.
     You feel so small and lost like,
     You're the only one.
     You wanna scream,
     'Cause you're desperate.


Salisa mengusap wajah dengan kedua tangannya. Depresi. Satu kata yang menggambarkan keadaanya sekarang ini. Tidak sampai hilang kewarasan, tapi hanya menyebabkan sebuah luka dalam hatinya. Baru dua hari yang lalu ia menerima kenyataan pahit. Kekasih yang sudah menjalani hubungan dengannya selama tiga tahun membuat keputusan untuk mengakhiri hubungan mereka. Kekasihnya mengatakan, ia ingin fokus di pelajaran. Klise, sangat klise.
     Berlebihan. Mungkin gadis ini bisa dibilang seperti itu. Tapi sungguh. Gadis ini merasakan perih untuk yang pertama kali. Cowok yang baru saja mengakhiri hubungan dengan Salisa adalah cowok pertama yang berhasil menembus dinding hati Salisa yang kokoh. Sayang saja, cowok itu kini menghancurkannya.
     "Dih, lo ngapain di situ udah kayak curut aja?"
    Sebuah suara yang sangat dikenal Salisa membuat ia menghapus air matanya dengan kasar. Ia mendongak lalu menatap sebal pemilik suara tersebut.
     "Lah, lo kenapa? Jelek amat kayak abis kecebur got."
     Salisa mengepalkan kedua tangannya. Ia berdiri kemudian memandang pemilik suara tadi dengan pandangan membunuh.
     "Dih, kenapa lo?"
     "Lo yang ngapain?!!" Teriak Salisa keras.
     Pemilik suara yang ternyata adalah seorang cowok itu memutar bola matanya. "Harusnya lo jawab pertanyaan gue kali."
     "Apa sih urusan lo?!!"
     "Dih santai aja kali. Udah muka lagi jelek banget gitu, marah-marah."
     "Bintang!! Lo bisa serius gak sih?!"
     "Biasa aja kek Sa, galak amat."
   Salisa mengatur napasnya. Kenapa Bintang harus ada di sekitarnya ketika ia dalam keadaan badmood. Bisa makin-makin badmoodnya karena keberadaan Bintang.
     "Lo ngapain di sini?" Tanya Salisa dengan nada lebih renda dari sebelumnya.
   "Ambil bola." Bintang berjalan ke rak penyimpanan bola sepak, mengambil dua buah bola dari keranjang.
     "Ya udah sana pergi!" Usir Salisa.
    "Santai aja kali." Jawab Bintang sambil berjalan menuju luar. Sebelum benar-benar keluar, Bintang berbalik dan menatap Salisa yang dibalas dengan tatapan kesal oleh Salisa. "For your information aja nih ya, setau gue gudang ini ada penunggunya. Hati-hati nanti lo ditemenin loh nangisnya."
   Setelah berkata seperti itu, Bintang keluar dari gudang meninggalkan Salisa yang tiba-tiba saja merasa ketakutan akibat perkataan cowok tadi. 

- - - - -

Salisa masuk ke dalam kelasnya sambil agak menunduk. Walaupun ia sudah membasuh kedua matanya dengan air, bekas air mata masih cukup terlihat. Begitu sampai di mejanya Salisa langsung menjatuhkan tubuhnya, ia meletakkan ponselnya di laci meja. Kegiatannya terhenti begitu merasakan di dalam laci mejanya tidak kosong. Ia mengambil sesuatu dari dalam lacinya. Sebatang cokelat dan satu pak tisu basah. Dahi Salisa mengerut. Dari siapa ini? Kalau ini dari penggemar rahasia, kenapa ada tisu basahnya juga? Apa yang mengirim ini tahu ia habis menangis? Tapi kan, yang tahu dia habis menangis hanya... Ah tidak mungkin.
     "Woy No! Siniin apa handphone gue!!"
    Salisa menoleh ke arah suara berasal. Di sana ada Bintang dan Rino yang sedang saling mengejar satu sama lain.
     "Sal! Sal! Liat deh!" Rino mengacung-acungkan ponsel yang berada dalam tangannya.
  "Ah elah lu No!!!!" Teriak Bintang kesal membuat Rino tertawa kencang, sedangkan Salisa kebingungan.
     "Kenapa No?" Tanya Salisa.
    Rino terkekeh sambil menggeleng. "Gak papa Sal." Rino pun mengembalikan ponsel Bintang dan diterima Bintang sambil menggerutu.
   Salisa memandang Bintang dengan tatapan aneh, sehingga yang ditatap balas menatap dengan lebih aneh. "Kenapa lo liat-liat gue?! Suka aja ntar!" Ketus Bintang. Ia dan Rino pun duduk di kursi mereka.
     "Ish males banget gue!" Balas Salisa kesal.
     "Salisaaaaaaaaaaaa!!!"
     Bunyi sepatu yang bersentuhan dengan lantai terdengar semakin mendekat ke arah meja Salisa. Salisa mendelik, temannya yang berisik datang lagi.
     "Sal lo ke mana aja sih?! Gue kan nyariin elo!" Cecar Tika kepada Salisa.
     "Daritadi gue di kelas." Jawab Salisa.
     "Bukannya olahraga lo!" Balas Tika. Cewek itu duduk di bangku sebelah Salisa.
     "Pak Dinonya juga gak ada, males banget gue olahraga." Jawab Salisa lagi.
     "Ye elo, gerak dikit kek. Males banget jadi orang." Kata Tika sambil berdecak pelan.
     Salisa tidak peduli, kini ia membuka ponselnya.

     Ting!
     Satu chat masuk di ponsel Salisa. Ia membukanya.

     Bintang Timur:
     Kibul bener daritadi di kelas!

   Lagi-lagi Salisa mendelik, ia melirik Bintang yang sedang sok-sok bersiul tak jauh darinya. Di sebelahnya Rino hanya menahan tawa.

     Salisa Rahmadita:
     Bacot.

    Setelah membalas chat dari Bintang, Salisa mengambil tas sekolahnya dan menjadikannya bantal untuk tidur.

- - - - -

Salisa merapikan buku-bukunya dengan gerakan cepat. Hari ini ia tidak mau berlama-lama di sekolah. Moodnya benar-benar tidak mendukung hari ini. Begitu buku terakhir masuk ke dalam tasnya, Salisa bergegas keluar dari sekolah.
     Biasanya ia selalu melintasi lapangan, tapi kali ini ia tidak mau, ia tidak mau bertemu dengan Wafi karena biasanya Wafi duduk-duduk di sekitar lapangan. Dulu, saat mereka berdua pacaran, Salisa sering menemani Wafi berkumpul dengan teman-temannya juga teman-teman Salisa di lapangan.
     Baru saja Salisa akan melintasi lobby sekolahnya, langkahnya langsung terhenti begitu melihat sebuah pemandangan tak mengenakkan di matanya.
     Itu Wafi. Bersama dengan Tika. Ya, Tika teman sebangkunya. Mereka sedang berjalan mendekat ke arah Salisa. Tangan kanan Wafi sedang menggamit tangan Tika. Rasanya Salisa ingin segera pergi begitu saja dari sana ketika melihatnya, tapi entahlah, kakinya tidak dapat bergerak sedikit pun.
     Sialnya kedua pasang mata insan yang ada di depan Salisa melihat keberadaan Salisa. Segera Tika melepaskan tautan tangannya dengan Wafi dan berjalan mendekat ke arah Salisa.
    "Sal, sorry gue... gue... gue gak maksud." Tika menyentuh lengan Salisa tapi segera ditepis oleh Salisa sendiri.
    Tanpa menjawab kata-kata Tika, Salisa berlari entah ke mana. Tika hendak mengejar Salisa, tapi tubuhnya tertahan oleh sebuah tangan.
   "Gak usah sok-sok ngejar dia kalau lo sendiri senang dia kayak gitu." Itu Bintang. Ya Bintang Timur. Begitu ia memberikan sebuah tatapan tajam kepada Wafi yang hanya diam saja, Bintang mengejar Salisa yang entah sudah ada di mana.

- - - - -

Bintang mencari Salisa di seluruh penjuru sekolah. Ia yakin Salisa masih ada di sini. Gadis itu tadi menangis dan ia tidak akan mungkin naik angkutan umum dalam keadaan seperti itu. Tapi di mana lagi gadis itu? Semua tempat di dalam sekolah sudah diperiksanya, oh tunggu, ada satu yang belum, gudang penyimpanan peralatan olahraga.
     Sesegera mungkin Bintang berlari ke arah sana. Begitu sampai, ia langsung membuka pintu dan benar saja, terdengar suara orang yang sedang menangis. Perlahan Bintang melangkahkan kakinya mendekat ke arah Salisa. Gadis itu sedang terduduk menghadap setumpuk raket yang sudah usang, ia tidak menyadari kehadiran Bintang karena ia duduk membelakangi pintu gudang.
    "Gembel banget deh kalau lagi nangis." Bintang bersuara membuat Salisa menoleh ke arahnya. Bintang agak terkejut melihat wajah gadis itu, matanya lumayan merah untuk ukuran orang yang belum memakan waktu yang lama saat menangis. Hebat sekali kekuatan sakit hati, bisa membuat mata orang merah dalam sekejap.
    "Ngapain, hiks, lo, hiks, di sini?!" Di sela-sela tangisannya, Salisa masih bisa bertanya kepada Bintang dengan suara galak.
     Bintang tak menjawab, dia mendekat ke arah Salisa dan duduk di sebelahnya.
   "Bener-bener kayak tikus kecebur got ya lo." Komentar Bintang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
    Salisa memukul lengan Bintang dengan sekuat tenaga, membuat cowok itu mengaduh kesakitan.
   "Duh Sa, kok lo anarkis banget sih?" Protes Bintang. Ia mengusap-usap tangan yang menjadi korban pukulan Salisa.
   "Kalau lo cuma mau ngejekin gue, mending lo keluar deh!!" Suruh Salisa dengan suara tinggi.
  "Nangisnya pindah tempat ya? Sekolah udah mau ditutup, nanti kita gak bisa keluar?" Tutur Bintang tanpa menghiraukan suruhan Salisa.
   "Gak usah ikut campur urusan gue!!" Bentak Salisa.
  Bintang mendengus keras, gadis ini benar-benar keras kepala. Tanpa berkata apa-apa lagi, Bintang mengangkat tubuh Salisa dan membawanya keluar dari gudang.

- - - - -

"Tang lo punya otak gak sih?!" Maki Salisa kesal.
     Mereka berdua kini sudah berada di belakang gedung tak terpakai. Bintang sedang duduk di atas rumput sementara Salisa berdiri sambil berkacak pinggang.
     Melihat tak ada jawaban, Salisa menggeram kesal. Ia menghentak-hentakkan kakinya melepaskan rasa kesal yang sedang ia rasakan sekarang ini.
    "Nih," Bintang menyodorkan sekotak tisu basah kepada Salisa. Salisa menolak keras pemberian dari Bintang dan ia merogoh tasnya sendiri. Ke mana tisu basah miliknya? Kok hilang? Salisa memandang Bintang sedangkan yang ditatap hanya nyengir. "Gue ambil dari tas lo, hehe."
    Dengan kasar Salisa mengambil tisu itu dari tangan Bintang, mau tak mau ia duduk di sebelah Bintang karena merasa pegal terus berdiri. Ditariknya selembar tisu dan ia melap wajahnya, terutama kedua bola matanya, dengan tisu basah itu.
     "Jangan nangis lagi ya?"
    Salisa menoleh, ia heran mendengar ucapan yang tiba-tiba keluar dari mulut Bintang.
     "Jangan nangisin hal yang sia-sia ya?"
    Salisa tak menjawab, ia hanya mengerutkan keningnya meminta penjelasan dari semua perkataan Bintang.
    "Jangan stuck sama mantan lo yang brengsek itu ya?"
   Mendengar perkataan Bintang, Salisa ingin membalasnya, tapi cowok itu lebih dahulu menyela kata-katanya.
    "Bisa gak lo lihat yang lain?"
  Kembali Salisa menyerngitkan dahi, kali ini ditambah dengan sebuah cemberut. Apa maunya cowok ini sih!
   "Bisa gak lo buka hati untuk orang lain?"
  Oke cukup Bintang, Salisa benar-benar tidak paham apa yang sedang cowok itu katakan. Salisa mengepalkan tangannya dengan keras, bersiap untuk memukul cowok itu.
    "Gue sayang sama lo."
   Bintang! Ngese-- eh tunggu, tadi dia bilang apa? Salisa menggumam dalam hati.
    "Apa?"
   Bintang menatap lekat manik mata Salisa, pandangan gadis itu benar-benar terkunci. "Gue sayang sama lo, cewek anarkis!"
   Salisa terdiam, otaknya masih mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Bintang.
  "Mau gak lo jadi pacar gue?" Lagi-lagi Bintang bersuara, ujung-ujung bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman yang paling terbaik.
   Seketika perasaan sedih dan sakit hatinya terlupakan. Kini Salisa hanya bisa diam seribu bahasa.

TAMAT

Selasa, 28 April 2015

Hati Kedua: The (Fail) First Love

Shafira Elga & Khresna Megananda


Khresna mengendarai motor besarnya menyusuri jalanan, walaupun udara agak panas dan keadaan jalan sedikit penuh, ia tetap menikmati perjalanannya ini. Motornya terhenti secara perlahan begitu ia melihat seseorang yang hendak menyebrang. Ini memang hanya jalanan kecil dan untuk negara seperti Indonesia, cukup sulit bagi pejalan kaki yang ingin menyebrang karena tidak adanya zebra cross dan para pengendara motor jarang yang mau mengalah. Khresna mempersilahkan orang tadi agar menyebrang, ia sampai menghentikan motor di belakangnya yang ingin menyalip. Sang penyebrang yang bergender perempuan kemudian menoleh ke arah Khresna dan tersenyum berterima kasih. Khresna terpana. Sampai gadis itu sudah jauh dari tempatnya, ia masih dalam keadaan yang sama. Motor-motor dan mobil yang ia hentikan sampai membunyikan klakson karena Khresna tak kunjung menjalankan motornya.
            Khresna tersadar dan meminta maaf kepada seluruh pengendara motor dan mobil yang ada di sekitarnya. Ia melanjutkan perjalannya sambil terngiang dengan wajah gadis tadi.
            Astaga, cewek tadi cantik banget. Gue harap gue bisa ketemu dia lagi.

- - - - -

Khresna memasukkan buku-buku ke dalam tas sekolahnya. Ia menyandangkan tasnya dan pergi keluar dari kamarnya. Di ruang makan sudah terlihat kedua orang tua, Adik dan Kakaknya. Dia menarik kursi meja makan di sebelah kakaknya dan duduk dengan nyaman.
            “Kalau baru datang ya toh ucapin selamat pagi gitu.” Tegur sang Mama ketika melihat anak laki-laki satu-satunya hanya duduk tanpa berkata apa-apa.
            “Pagi Ma, Pa, Mbak Jejen, Tiwi.” Ucap Khresna santai.
            “Kok gak semangat amat sih Mas? Tahun ajaran baru juga.” Tanya sang Papa kepada Khresna.
            Khresna mengangkat bahunya, “Yah apa yang harus di semangatin. Orang sama aja.”
            “Kan lo bisa nge-mos anak baru Mas!” Sahut Tiwi, Adik Khresna.
            “Tau Khres, kan jadi bisa ngincer anak kelas satu tuh.” Sambung Jejen, Kakak Khresna.
            “Bosen gue, dua tahun jadi panitia gara-gara kelas bawah gak becus.” Balas Khresna.
            “Ya tapi minimal semangat lah Mas, kan ketemu temen sekelas baru, guru baru.” Ujar sang Mama. Ia menyerahkan setangkup roti dengan selai cokelat di atas piring makan Khresna.
            “Gak ada yang baru, lama semua.” Khresna menggigit roti lalu mengunyahnya.

- - - - -

Khresna melangkah masuk ke dalam ruang OSIS di sekolahnya. Sebenarnya sekarang sudah bukan tugas Khresna dan teman-temannya lagi menjadi panitia di acara MOPDB, tetapi karena guru-guru tidak percaya dengan adik kelas mereka, alhasil mereka kembalilah yang ditunjuk sebagai pelaksana dibantu dengan adik kelas mereka.
            “Woy Khres! Gak semangat amat kayaknya!” Seseorang menyapa Khresna sambil menepuk bahunya.
            “Ngapain sih semangat-semangat amat.” Balas Khresna malas. Ia meletakkan tasnya dengan sembarang di lantai.
            “Tahun ajaran baru coy, masa masih aja lemes sih.” Orang itu memberikan Khresna sebuah id card.
            “Yailah, sama aja kali Rang.” Cibir Khresna. Ia mengikat tali id cardnya di lubang untuk ikat pinggang pada celana seragamnya.
            Rangga menggeleng-geleng. “Ya udah sana, si Hana sama Sari udah nungguin di kelas sepuluh Bahasa satu tuh.” Kata Rangga.
            Khresna mengangguk, kemudian ia berjalan keluar dari ruang OSIS menuju lapangan. Ia mendekat ke tempat Hana dan Sari berdiri.
            “Khres kemana aja sih?” Tanya Hana sedikit kesal.
            “Baru dateng gue.” Jawab Khresna santai. Ia hanya mengedarkan pandangan sekilas ke seluruh lapangan dan kembali memalingkan wajahnya mencari keasyikan sendiri.
            “Udah banyak yang dateng juga,” komentar Hana. “Nih lo pegang daftar absen, upacara sebentar lagi mulai. Anak kelasan kita masih belum lengkap, jadi lo berdiri di belakang terus nanti absenin yang baru dateng. Catat yang telat siapa aja dan telatnya berapa menit.” Suruh Hana sembari memberikan selembar kertas berisi nama-nama murid kelas sepuluh Bahasa satu kepada Khresna.
            “Lo aja ah Han, males gue.” Ucap Khresna, ia menolak pemberian dari Hana.
            Hana memutar bola matanya kesal, “Sekarang lo pilih, di belakang absenin anak-anak, atau di depan dan lo gak ngapa-ngapain.”
            Khresna pun mengambil kertas tadi dari tangan Hana dan segera berjalan ke barisan paling belakang, diikuti dengan Sari yang kemudian berjalan menuju gerbang sekolah untuk menunggu murid-murid kelas sepuluh Bahasa satu yang belum datang.
            “Eh Rang, Rang!”
            Ketika Rangga lewat di dekat Khresna ia langsung memanggil cowok itu.
            “Kenapa Khres?”
            “Nanti gue boleh izin nyemok kan?”
            “Terserah lo aja, asal balik ke kelas langsung bersih lagi ya.”
            Khresna mengangguk. Bersyukur acara ini mempunyai ketua seperti Rangga, bukan ketua macam Hana yang cerewetnya minta ampun. Kalau Hana yang mengetuai acara ini, Khresna yakin ia sulit mendapatkan izin untuk merokok.
            “Kak Khresna, nih ada yang baru dateng anaknya. Tadi gue disuruh Sari anterin ke elo.” Suara Tian terdengar.
            “Nama lo siapa?” Tanya Khresna tanpa mengalihkan pandangannnya dari kertas absen.
            “Shafira Elga, Kak.”
            “Oh, yaud...”
            Sungguh Khresna sangat terkejut begitu ia mengangkat kepalanya. Pandangannya terhenti tepat pada wajah gadis yang sedang berdiri di depannya. Gadis yang ia kenali, gadis yang mempunyai senyum yang sangat manis, gadis yang sanggup membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama.
            “Kak?” Tian menggoyang-goyangkan telapak tangannya di depan Khresna, membuat Khresna sadar sambil mengerjapkan matanya.
            “Eh, sorry, sorry,” pinta Khresna. “Tadi nama lo siapa?”
            “Shafira Elga Kak.” Jawab gadis itu mantap.
            Khresna mengangguk. “Ya udah, taruh aja tas lo di sini. Terus masuk ke barisan situ.”
            “Makasih Kak.” Gadis itu tersenyum. Ia meletakkan tasnya tepat di kumpulan tas milik murid-murid kelas sepuluh Bahasa satu. Sesaat kemudian, ia sudah ada di barisan kelasnya.
            Jadi namanya Shafira Elga...

- - - - -

Khresna berjalan masuk menuju kelas sepuluh Bahasa satu dengan perasan berbeda dari sebelumnya. Kini ia tersenyum, membuat Hana dan Sari heran melihat dirinya. Khresna duduk di kursi guru masih dengan senyuman melekat di wajahnya. Hana dan Sari pun masuk, serta murid-murid kelas sepuluh Bahasa satu pun ikut masuk lalu memilih tempat duduk mereka masing-masing. Senyum Khresna semakin melebar ketika melihat gadis yang mampu membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama duduk di kursi yang tepat bersebrangan dengannya. Sembari menunggu Sari menghapus papan tulis, juga sembari menunggu seluruh murid duduk dengan rapi, Hana menyenggol lengan Khresna.
            “Khres, lo kenapa?”
            “Gak kenapa-napa.” Jawab Khresna santai.
            “Awas lo bikin ulah di sini.” Ancam Hana.
            “Santai apa.”
            Hana pun kembali fokus kepada adik-adik kelasnya yang sudah menunggu di tempatnya masing-masing. Hana memberikan senyum paling manis, menurutnya, dan mulai membuka pertemuan di pagi ini.
            “Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Selamat pagi semuanya, nama gue Hana. Ashabilla Hana. Gue dari kelas dua belas Ipa dua. Gue yang akan jadi kakak pembimbing kalian selama tiga hari ke depan,” ucap Hana lembut tapi lantang. “Di sini gue gak sendiri, gue ditemenin sama Khresna dan Sari selaku kakak pembimbing dan peninjau kalian. Biar lebih enak, silahkan, Khresna dan Sari, perkenalkan diri masing-masing.”
            “Duluan Sar.” Suruh Khresna.
            “Gue Sarita Evanna, dari kelas sebelas Bahasa satu. Gue selaku kakak peninjau kalian.”
            “Gue Khresna, kelas dua belas Ips tiga.”
            “Ya, kita kan udah kenalan, sekarang giliran kalian ya yang memperkenalkan diri kalian masing-masing.” Kata Hana kemudian.
            Setelah Hana mengatakan seperti itu, keadaan kelas menjadi hening. Kebiasaan murid baru. Malu atau malas memperkenalkan diri.
            “Gue mau yang namanya Shafira Elga, maju ke depan.” Tiba-tiba suara Khresna memecah keheningan di dalam kelas ini.
            Gadis yang dipanggil Khresna itu pun berdiri. Ia berjalan ke depan, kemudian sambil menatap seluruh teman-teman barunya di kelas secara bergantian, ia pun berbicara. “Nama gue Shafira Elga, tapi kalian panggil aja gue Elga. Dulu sekolah di SMP Maharta. Salam kenal semua.”

- - - - -

Bel istirahat sudah berbunyi, Hana dan Sari pun sudah keluar dari kelas sepuluh Bahasa satu. Khresna? Tentu saja dia masih ada di dalam. Ia menyuruh Hana dan Sari untuk lebih dulu keluar dengan alasan ponselnya masih di charge di dalam kelas itu. Padahal sesungguhnya bukan itu alasan Khresna untuk menetap dalam kelas tersebut.
            “Elga kan?” Khresna berjalan menuju tempat Elga. Bertanya pertanyaan bodoh. Tentu saja bodoh, Elga dan teman sebangkunya saja sampai heran mendengar pertanyaan dari Khresna.
            “Iya Kak?” Jawab Elga masih berusaha tersenyum walaupun ia merasa heran.
            “Ganggu gak nih gue?” Khresna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kenapa ia merasa sangat gugup sekarang.
            Elga hanya menjawab pertanyaan Khresna dengan gelengan.
            “Lo anak SMP Maharta beneran?” Tanya Khresna.
            “Iya Kak, Kakak dulu juga anak SMP Maharta kan?” Jawab sekaligus tanya Elga.
            “Ah lo tau?”
            Elga tersenyum sambil mengangguk. “Siapa yang gak kenal Kakak sih. Kakak kan eksis dulu.”
            Khresna tertawa malu. “Gak juga kok El,” ucapnya. “Kok gue dulu gak pernah lihat lo ya di Maharta?”
            “Saya bukan anak eksis Kak, anak biasa-biasa aja.” Jawabnya kalem.
            “Ah, tapi kenapa gue bisa gak sadar ya kalau di SMP Maharta ada gadis secantik lo.”
            Elga terdiam, teman sebangkunya pun ikut terdiam. Beberapa murid kelas sepuluh Bahasa satu yang masih bisa mendengar ucapan Khresna pun ikut terdiam. Awalnya Khresna belum menyadari apa yang membuat mereka terdiam, tapi beberapa saat ia sadar.
            “Ah, hehehe, gak usah dimasukkin hati ya omongan gue. Oh ya, gue duluan ya.”
            Tanpa menunggu balasan apapun dari Elga. Khresna keluar dari ruang kelas sepuluh Bahasa satu.
            Malu-maluin...

- - - - -

Khresna masuk ke dalam ruang OSIS masih dengan perasaan malu luar biasa. Kenapa juga ia bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu. Tidak bisa jadi first impression yang baik untuk Elga.
            “Habis nyemok lo?” Rangga kembali menepuk bahu Khresna, membuat Khresna harus menoleh ke arahnya.
            Khresna menggeleng. “Abis malu gue.” Jawab Khresna.
            “Lah lo ngapain emang?”
            “Sesuatu yang memalukan deh.”
            “Gak jadi nyemok? Masih lumayan lama nih waktu istirahatnya.”
            “Gak deh, mulut asem gue udah kebayar sama malu.”
            “Emang kenapa sih?”
            Khresna tetap menggeleng. “Gak ah, bukan cerita yang baik untuk diberitahu ke orang lain.”
            “Sok banget lo bro,” cibir Rangga. “Eh gue pergi dulu ya, ada urusan nih. Kalau misalnya lo mau nyemok sekarang-sekarang aja, mumpung masih lama. Jadi masih gue izinin.”
            “Iya, cerewet banget lo Rang.”
            Rangga hanya tertawa, ia kembali menepuk bahu Khresna dan laki-laki itu pun keluar dari ruang OSIS.

- - - - -

Sekarang adalah hari ketiga pelaksanaan MOPDB, ini berarti bahwa MOPDB sebentar lagi akan berakhir. Semenjak kejadian kelepasan berbicara Khresna tempo hari lalu, Khresna semakin jatuh hati kepada sosok Elga. Gadis itu tidak ilfeel seperti yang Khresna bayangkan, malah gadis itu lebih banyak tersenyum dan mau berinteraksi dengan Khresna. Bahkan, di saat hari kedua, Khresna mengantarkan Elga pulang karena supir Elga tidak bisa menjemput. Walaupun tidak sampai rumahnya karena Elga sendiri yang menolak, Khresna tetap merasa senang. Ia merasa gadis itu juga menyukai dirinya.
            Di hari ketiga ini adalah hari di mana para peserta MOPDB mempersembahkan sebuah kreasi seni yang akan mereka tampilkan masing-masing. Penampilan dilakukan perkelas dengan waktu minimal lima menit dan maksimal sepuluh menit.
            Kelas sepuluh Bahasa satu memilih untuk menampilkan sebuah lagu dari Bruno Mars yang berjudul Just the Way You Are. Lagu ini akan dinyanyikan secara duet oleh Elga dan Dira, mereka berdua adalah pasangan duet terkeren menurut teman-teman mereka.
            Nomor urut tiga kini telah disebutkan oleh panitia dan sekaranglah waktunya bagi kelas sepuluh Bahasa satu untuk menampilkan penampilan mereka kepada seluruh peserta juga panitia MOPDB. Dari pinggir lapangan, Hana, Sari dan Khresna menyemangati anak-anak bimbingan mereka. Murid-murid kelas sepuluh Bahasa satu yang tidak ikut tampil pun ikut memberikan semangat kepada teman mereka.
            “Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,” Elga membuka penampilan mereka dengan salam yang dijawab dengan kompak oleh parah audience di tengah lapangan. “Kami dari kelas sepuluh Bahasa satu, akan menampilkan sebuah lagu yang akan dinyanyikan secara duet oleh saya Shafira Elga dan teman saya,”
            “Armadira Mahindra.”
            “Lalu di sini ada Jihaan Ardina di keyboard, juga Bagas Wiratama di gitar. Yuk langsung aja dengerin lagu persembahan dari kita.”
            Suara keyboard dan gitar mulai terdengar memainkan intro lagu dari penyanyi berambut keriting ini. Murid-murid yang menonton mulai memfokuskan perhatian mereka pada penampil yang ada di depan. Dira pun mulai bernyanyi.

            Her eyes, her eyes,
            Make the stars look like they’re not shining.
            Her hair, her hair,
            Falls perfectly without her trying.
            She’s so beautiful,
            And I tell her everyday, yeah.

            Ya, entah kenapa lagu ini pas untuk Elga. Matanya sanggup membuat Khresna tidak bisa berpaling. Rambutnya selalu terlihat indah dalam keadaan apapun. Elga selalu terlihat cantik dan Khresna selalu mengatakan itu pada dirinya sendiri.

            I know, I know,
            When I compliment her she won’t believe me.
            And it’s so, it’s so,
            Sad to think that she don’t see what I see.
            But everytime she asks me “Do I look okay?”
            I say...

            Kini Elga menggantikan Dira untuk bernyanyi.

            When I see your face.
            There’s not  a thing that I would change,
            ‘Cause you’re amazing,
            Just the way you are.
            And when you smile.
            The whole world stops and stares for a while.
            ‘Cause boy you’re amazing.
            Just the way you are...

            Pandangan Khresna tidak bisa lepas dari Elga. Khresna tidak peduli, ia memang menyukai gadis itu dan ia akan menunjukkan ketertarikannya selama gadis itu tidak merasa risih kepadanya. Pandangan Khresna terus berada pada Elga, sampai tak terasa lagu sudah berhenti dan tepuk tangan menyambut mereka.
            “Terima kasih untuk semuanya.” Salam Elga sambil tersenyum.
            Sekilas ia melihat ke tempat Khresna dan kemudian menyunggingkan senyuman khasnya.
            Dia tersenyum lagi...

- - - - -

Acara MOPDB sudah berakhir dan evaluasi acara ini juga sudah selesai. Dengan semangat empat lima Khresna keluar dari ruang OSIS. Tetapi, langkahnya tertahan oleh Hana ketika ia sudah mencapai ambang pintu ruang OSIS.
            “Khres, anak-anak sepuluh Bahasa satu ngajakin makan-makan di rumah si Nelly hari Sabtu. Bisa datang kan lo?”
            “Hm bisa.” Jawab Khresna. Ia mencoba menyerobot keluar dari jegalan Hana.
            “Ih ntar dulu apa!” Hana menarik Khresna kembali ke dalam ruang OSIS.
            “Apaan lagi sih Han?” Tanya Khresna kesal.
            “Eh, lo naksir si Elga ya?” Hana memandang Khresna dengan tatapan seintens mungkin.
            Khresna tersenyum lebar memamerkan giginya, “Lo liat Elga gak Han?” Tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Hana.
            “Ih gue nanya juga!”
            “Jawab dulu pertanyaan gue.”
            “Ada di depan kelas noh, jawab sekarang pertanyaan gue!”
            Dengan cepat Khresna berlari keluar dan kembali berlari sejauh mungkin dari ruang OSIS sebelum Hana berhasil menangkapnya.
            “Ih Khres! Dengerin gue dulu!!!”
            “Makasih Hana cantik!”
            Tanpa memperdulikan panggilan Hana, Khresna terus berjalan menuju kelas sepuluh Bahasa satu.
            Gue udah yakin, gue pasti akan diterima sama dia!

- - - - -

Langkah Khresna terhenti begitu ia mendengar suara, dari balik dinding pembatas antara koridor dan tiga kelas di dekatnya Khresna mengamati suara yang tidak asing lagi baginya.
            “Tadi bagus banget sih nyanyinya.” Sebuah suara laki-laki dapat didengar Khresna.
            “Bisa banget gombalnya.” Kali ini suara seorang gadis terdengar.
            “Beneran El, aku serius, bukan gombal.” Suara laki-laki itu lagi. Kali ini sang gadis tertawa mendengar ucapan dari sang laki-laki. “Tapi tadi nyanyinya buat aku kan? Bukan buat temen duet kamu?”
            “Aku nyanyi cuma buat temen-temen aku yang dengerin sih, kepedean deh.” Gadis itu berkata sambil tertawa kecil.
            “Kamu tuh ya...”
            “Apa?”
            “Bisa aja bikin aku sayang sama kamu cuma dalam waktu singkat.”
            Ketika Khresna yakin dengan pikirannya tentang siapa pemilik suara tersebut, Khresna sedikit mengintip dari balik dinding. Benar saja dugaanya. Kini sang pemilik suara sedang berdiri sambil mengecup kening gadis yang berada di depannya. Itu Rangga dan Elga. Mereka berdua terlihat bahagia di mata Khresna. Khresna menarik dirinya untuk pergi dari balik dinding itu. Ia berjalan menuju ruang OSIS untuk mengambil tas miliknya, kemudian ia keluar tanpa menghiraukan panggilan Hana yang menyerukan namanya.
            Khresna menaiki motornya, memacu motornya dengan kecepatan di luar batas rata-rata. Ia berhenti di sebuah tempat yang biasa dijadikan tempat tongkrongan oleh teman-teman di sekolahnya termasuk Rangga. Beruntung ini masih belum masuk waktu nongkrong teman-temannya. Khresna malas kalau mereka ada di sini, malas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari mereka.
            Ia menyalakan rokok dan mulai menghisapnya dengan kasar. Pemandangan yang belum lama ia lihat entah kenapa membuat hatinya tergores. Memang tidak menimbulkan luka yang besar, hanya saja ia merasa kecewa dengan apa yang dilihatnya. Tentu ia tidak akan menangis. Ia laki-laki dan ia bukan laki-laki lemah.
            Tapi ia benar-benar kecewa, perasaan yang tidak tersampaikan membuat hatinya sedikit tidak nyaman.
            Khresna percaya pada cinta pada pandangan pertama, dan kejadian tadi pula yang membuat Khresna percaya dengan pernyataan bahwa cinta tak selamanya membuat bahagia.

            Namun tiba-tiba, kau ada yang punya.
            Hati ini terluka,
            Sungguhku kecewa...
            Inginku berkata.

            Kasih maaf bila aku jatuh cinta,
            Maaf bila saja ku suka,
            Saat, kau ada yang punya...
            Haruskah ku pendam rasa ini saja?
            Ataukah ku teruskan saja?

            Hingga, kau meninggalkannya dan kita bersama...

THE END

Hati Pertama: My Un-romantic Boyfriend

Kirana Sekar & Andy Arfian Wilatika

Aku memandang kesal ke arah depan. Kalian mau tau apa yang membuat aku kesal? Tuh, si Andy yang lagi asyik baca buku sambil ngasih pelajaran tambahan kimia ke adik kelas. Bayangin aja sih, dia tadi ngajakin aku ngedate, eh taunya ke perpustakaan umum dan udah ada lima orang adik kelas yang nungguin dia di perpustakaan.
            Kalian bakal bete gak sih kalau jadi aku? Bete kan? Yang bener aja deh, aku sama dia udah jadi mahasiswa dan dia masih mau ngajarin adik kelas kita dulu sewaktu di SMA, padahal kami udah beda tiga tahun sama mereka. Gimana aku gak keki coba? Aku mau ngedate Ndy... Bukannya ngeliatin kamu ngajarin tuh bocah-bocah! Mana cewek semua lagi. Huh.
            “Kak, aku gak ngerti yang di bagian sini, ini digimanain sih?” Cewek yang berambut bob bertanya kepada Andy.
            Gak usah rapat-rapat ke cowok orang juga kali Dek!
            “Mana coba liat?” Respon Andy, ia membaca buku milik cewek tadi dengan seksama. “Oh ini sih gampang, asal lo inget aja gimana teorinya. Kalau tekanan diperbesar, dia bertambah ke bagian dengan koefisien kecil, begitu juga sebaliknya. Sedangkan untuk volume, apabila dia diperbesar, dia akan bertambah ke bagian dengan koefisien besar dan ini berlaku juga sebaliknya.”
            Cewek tadi mengangguk-angguk dan ia kembali mengerjakan soal yang sengaja diberikan Andy untuk ia dan keempat temannya.
            “Kak, kalau yang ini, dia berarti cari pH kan Kak?” Kembali, salah satu dari lima cewek itu bertanya kepada Andy. Kini yang bertanya adalah cewek yang paling cantik di antara kelima cewek yang ada.
            “Iyap, tapi sebelumnya dicari pOHnya dulu, soalnya dia basa.”
            “Makasih Kak.” Dengan suara sok imutnya dia berterima kasih kepada Andy.
            Ih, sumpah ya, aku bete pangkat tak terhingga.
            “Ndy.” Kali ini aku berusaha mengalihkan perhatiannya dari buku.
            “Hm?” Ia sama sekali tidak mengalihkan perhatiannya kepadaku.
            “Ndy.” Panggilku lagi.
            “Hm?” Kembali ia merespon dengan hal yang sama seperti pertama.
            “Andyyyyyyyyyyyy.”
            “Jangan berisik Kar, ganggu yang lain.”
            Brak!
            Andy yang tidak teralihkan dari bukunya kini menatapku dengan wajah heran. Lima cewek yang sedang mengerjakan soal pun menatap ke arahku dengan bingung. Pengunjung-pengunjung di perpustakaan yang ada di sekitarku juga jadi menatap heran ke arahku.
            Sudahlah, kepalang tanggung karena aku menggebrak meja. Sekalian aja luapin semua emosi yang udah lama aku pendam.
            “Mending kita putus kalo gitu! Pacaran aja tuh sama buku dan adik-adik lo itu! Dasar cowok gak peka dan gak romantis!”
            Setelah berteriak dengan volume semaksimal mungkin. Aku berlari keluar dari perpustakaan dan memberhentikan taksi untuk pulang ke rumah.

- - - - -

Suara radio menemaniku sedari tadi. Sudah lima hari ini aku tidak bertemu Andy. Yah, sebenarnya aku yang menghindar. Setiap berpapasan dengannya, aku pasti selalu mencari cara agar aku tidak perlu bertegur sapa dengannya. Entah itu dengan memutar jalan, menunduk, atau pura-pura mengobrol dengan temanku.
            Jujur aja. Aku kangen Andy, tapi setelah kejadian aku pergi dari perpustakaan itu, ia sama sekali tidak menghubungiku. Bahkan datang ke rumah saja tidak. Aku benar-benar marah dan bete sama dia. Sampai aku bertanya-tanya, yang pacarnya dia tuh aku atau lima cewek yang diajarin sama dia waktu itu? Ah sudah, aku malas mengingat-ingatnya.

            I can’t sleep...
            Everything I ever knew
            Is a lie, without you...

            I can’t breath...
            When my heart is broke in two
            There’s no beat, without you

            You’re not gone, but you’re not here
            At least that’s the way it seems tonight
            If we can try to end these wars
            I know that we can make it right

            Iiih, ini lagu apasih. Kok ngeselin banget liriknya. Kan aku yang lagi marah sama Andy gara-gara dia gak perhatian, tapi kenapa sekarang aku yang ngerasa bersalah gini sama dia. Ah, gara-gara lagu ini.
            Dengan kesal aku mematikan radio. Membenamkan wajahku pada bantal kasur. Aku kesal sama Andy, tapi aku lebih kangen sama dia. Hiks.

- - - - -

Aku dan Shafa masuk ke dalam kantin kampus. Hari ini aku benar-benar galau, sekarang sudah genap seminggu Andy tidak menghubungiku. Apa dia benar-benar menganggap kami sudah putus ya? Aduh, memikirkannya saja aku sudah sedih. Seharusnya, aku tidak asal bicara saat kesal waktu itu.
            “Sekar! Liat, liat! Itu Andy bukan?” Shafa menyikut-nyikut lenganku. Membuatku mengikuti arah pandangnya.
            Ah, ya benar, itu Andy. Tapi dia sama siapa? Mereka hanya berdua dan mereka berbeda gender.
            “Bener kan itu Andy! Sama siapa tuh Kar?” Shafa kembali suara, membuatku kembali harus mengalihkan perhatian kepadanya.
            Aku hanya bisa menggeleng. Ya, aku memang gak tau.
            “Loh kok gak tau? Samperin gih Kar, masa lo biarin pacar lo berduaan sama cewek lain gitu aja?” Shafa memprovokasiku. Yah, cewek di sebelahku ini memang cukup unik. Entah dia kenapa, sampai sangat suka dengan sebuah keributan.
            “Gak ah, toh gue juga gatau sekarang status gue masih pacar dia atau bukan.” Ucapku sambil melenggang masuk ke dalam kantin meninggalkan Shafa yang masih kebingungan dengan ucapanku.
            Aku tidak peduli, aku terus berjalan sampai mendapatkan bangku yang nyaman untuk ditempati. Akhirnya aku menemukan kursi yang nyaman, segera saja ku jatuhkan diriku di atas kursi tesebut.
            Ngomong-ngomong Shafa mana ya, kok lama sih. Aku pun memeriksa ponsel, sembari menunggu Shafa sampai ke sini. Dasar deh anak itu, jalan kayak siput, seakan-akan kantin ini seluas Gelora Bung Karno jadi untuk sampai ke sini aja lama banget.
            Seseorang menjatuhkan dirinya di atas kursi dihadapanku. Akhirnya Shafa sampai juga.
            “Shaf, lama amat sih....”
            Mataku membulat, terkejut melihat sosok yang kini sudah terpampang nyata berada di depanku.
            “Kar, aku mau bicara sama kamu.”
            Aku membuang muka, mengacuhkan suara serta keberadaanya.
            “Kar, aku mau ngomong serius.”
            Ayolah Sekar, jangan sampai ketenanganmu terusik hanya karena mendengar suara cowok di depanmu ini.
            “Kirana Sekar.”
            Ah, dia curang. Dia melembutkan suaranya dan memanggilku dengan nama lengkap. Dasar cowok curang.
            “Kirana Sekar, aku mau bicara. Kamu mau dengerin aku kan?”
            Jangan dengarkan Sekar. Nanti pertahananmu runtuh.
            “Ih, Shafa mana sih? Kok lama banget.” Untuk memaksimalkan usahaku untuk mengacuhkannya, aku terpaksa bergumam sendiri seperti orang gila.
            Aku mencari-cari keberadaan Shafa di dalam kantin ini. Nihil. Kemana dia? Kok ninggalin aku sih? Loh, cewek yang tadi sama Andy juga udah gak ada. Ah lebih baik aku pergi juga dari sini.
            Aku menyandangkan tasku dan beranjak bangun dari kursi. Sebelum aku benar-benar bangkit, Andy menangkap pergelangan tanganku sehingga aku tidak bisa berdiri.
            “Kirana Sekar, ikut aku ya, sekali ini aja ikut aku, nanti kalau kamu gak suka, aku gak akan maksa-maksa kamu lagi. Oke?” Bujuknya sambil memandangku tepat di manik mata. Sial. Matanya mengunci mataku.
            Sepertinya aku terkena hipnotis. Lihat saja, aku mengangguk dan membiarkan Andy membawaku entah kemana.

- - - - -

Kami sekarang berada di luar kawasan kampus kami. Entahlah, aku masih belum bisa menebak kemana Andy akan membawaku. Aku meliriknya dari ekor mata, dia terlihat tenang-tenang saja. Apa orang itu gak ngerasa bersalah sama aku ya? Ah, sungguh, aku gak ngerti jalan pikiran Andy.
            “Nah udah sampai,” Ucapnya yang membuyarkan pandanganku terhadapnya. Ia memandangku sambil tersenyum. Dengan cepat aku memalingkan wajah. Aku harus tetap mempertahankan posisi marahku, jangan sampai sebuah senyuman melunturkan pondasinya. “Yuk turun!”
            Andy turun dari mobil. Membukakan pintuku sebelum aku sempat membukanya. Kembali dengan senyumannya ia memandangku. Ah, Andy, stop! Jangan buat aku semakin kangen sama kamu.
            “Ayo.” Dengak seenaknya dia menggandengku, tapi tanganku lebih seenaknya lagi karena dia tidak mau menuruti perintahku untuk menepis tangan Andy. Uh, tangan sama otak gak sinkron nih!
            Kami berdua menyusuri sebuah jalan setapak, ada beberapa rumput yang tumbuh dan membentuk seperti kelompok. Menurutku ini belum bisa disebut sebagai padang rumput karena jumlah rumputnya belum banyak.
            Sebuah kursi kayu terlihat di depan kami, ada dua kursi, di salah satu kursi tersandar sebuah gitar yang kukenali adalah gitar milik Andy. Andy membawaku untuk duduk di salah satu kursi, kemudian ia duduk di kursi lainnya sambil memangku gitar. Ia mulai memetik senar gitar.

            Day after day.
Time pass away.
And I just can’t get you off my mind.
Nobody knows, I hide it inside.
I keep on searching, but I can’t find.

The courage to show.
To letting you know.
I never felt so much love before.
And once again, I’m thinking about.
Taking the easy way out.

But if I let you go.
I will never know.
What my life would be,
Holding you close to me.
Will I ever see,
You smilling back at me.
How will I know?
If I let you go.

Night after night.
I hear myself saying
Why can’t this feeling just fade away?

There’s no one like you.
You speak to my heart.
It such a shame we’re world apart.

I’m too shy to ask.
I’m too proud to lose.
But sooner or later, I gotta chose.
And once again I’m thinking about.
Taking the easy way out.

But if I let you go.
I will never know.
What my life would be,
Holding you close to me.
Will I ever see,
You smilling back at me.
How will I know?
If I let you go.

Aku menatap sosok di depanku dengan tidak percaya. Ia meletakkan gitarnya dalam posisi semula. Ia berdiri, matanya masih terus menatapku tanpa berpaling. Senyumnya masih setia tersungging di bibirnya. Ia mengambil kedua tanganku, menggenggamnya erat.
            “Kirana Sekar, aku minta maaf. Maaf atas kekuranganku selama ini. Maaf karena belum bisa menjadi yang terbaik untuk kamu. Maaf karena aku belum mengerti kamu,” ucapnya pelan tapi tegas. “Aku sadar, selama ini belum menjadi sosok yang kamu inginkan. Aku menyesali itu semua. Jangan menghindar dari aku lagi, jangan pernah pergi dari aku lagi.”
            Aku masih menatap Andy dengan wajah tidak percaya. Aku terharu, tidak percaya, sedih dan merasa sedikit kesal dengannya. Dia benar-benar bisa mencampur-adukkan perasaanku.
            “Maafin aku ya?”
            Tak terasa sebulir air mata jatuh dari mataku. Astaga.
            “Maaf kalau udah nyakitin kamu. Aku minta maaf.” Ucapnya lagi.
            “Kenapa ga nelpon selama seminggu?” Hanya itu kata-kata yang bisa aku keluarkan.
            Lagi-lagi ia tersenyum. “Aku minta maaf. Ternyata aku butuh waktu selama seminggu untuk ngeyakinin diri aku sendiri kalau aku pantas untuk kamu.”
            “Aku kangen kamu Ndy....”
            Aku menghambur dalam pelukan cowok ini. Hangat. Seperti biasanya. Ah, betapa aku merindukan dirinya.
            “Permintaan maaf diterima?” tanyanya.
            “Yang di kantin tadi siapa?”
            Andy tersenyum. “Teman.”
            “Yakin teman?”
            “Tanya aja sama Shafa.”
            “Ih... Jadi Shafa tau?”
            Andy mengangguk. “Jadi, pemintaan maaf diterima?”
            Aku mengangguk. Kembali menenggelamkan wajahku di atas dadanya.
            “Kalau permintaan maaf sudah diterima, apa permintaan ini juga akan diterima?”
            Aku mendongak. Menatapnya dengan heran. Ia hanya tersenyum. Melepaskan pelukanku dan memposisikan dirinya bersimpuh di depanku. Tangannya merogoh saku celananya. Sebuah kotak beludru biru dikeluarkannya. Begitu kotak itu dibuka, aku kembali terkejut.
            “Will you be the only one for me until forever?”
            Cowok ini. Benar-benar. Ah, aku sangat-sangat mencintainya.
            “Yes, I will.”

            Ia mengeluarkan isi kotak tersebut yang berupa cincin dengan batu permata berbentuk lambang tak terhingga dan menyematkannya di jari manisku. Ya Tuhan, terima kasih telah membuatku bahagia hari ini. Aku harap, bahagia-bahagia lainnya menyusul di kemudian hari.

THE END