Kirana Sekar & Andy Arfian Wilatika
Aku
memandang kesal ke arah depan. Kalian mau tau apa yang membuat aku kesal? Tuh,
si Andy yang lagi asyik baca buku sambil ngasih pelajaran tambahan kimia ke
adik kelas. Bayangin aja sih, dia tadi ngajakin aku ngedate, eh taunya ke perpustakaan umum dan udah ada lima orang adik
kelas yang nungguin dia di perpustakaan.
Kalian bakal bete gak sih kalau jadi
aku? Bete kan? Yang bener aja deh, aku sama dia udah jadi mahasiswa dan dia
masih mau ngajarin adik kelas kita dulu sewaktu di SMA, padahal kami udah beda
tiga tahun sama mereka. Gimana aku gak keki coba? Aku mau ngedate Ndy... Bukannya ngeliatin kamu ngajarin
tuh bocah-bocah! Mana cewek semua lagi. Huh.
“Kak, aku gak ngerti yang di bagian
sini, ini digimanain sih?” Cewek yang berambut bob bertanya kepada Andy.
Gak usah rapat-rapat ke cowok orang
juga kali Dek!
“Mana coba liat?” Respon Andy, ia
membaca buku milik cewek tadi dengan seksama. “Oh ini sih gampang, asal lo
inget aja gimana teorinya. Kalau tekanan diperbesar, dia bertambah ke bagian
dengan koefisien kecil, begitu juga sebaliknya. Sedangkan untuk volume, apabila
dia diperbesar, dia akan bertambah ke bagian dengan koefisien besar dan ini
berlaku juga sebaliknya.”
Cewek tadi mengangguk-angguk dan ia
kembali mengerjakan soal yang sengaja diberikan Andy untuk ia dan keempat
temannya.
“Kak, kalau yang ini, dia berarti
cari pH kan Kak?” Kembali, salah satu dari lima cewek itu bertanya kepada Andy.
Kini yang bertanya adalah cewek yang paling cantik di antara kelima cewek yang
ada.
“Iyap, tapi sebelumnya dicari pOHnya
dulu, soalnya dia basa.”
“Makasih Kak.” Dengan suara sok
imutnya dia berterima kasih kepada Andy.
Ih, sumpah ya, aku bete pangkat tak
terhingga.
“Ndy.” Kali ini aku berusaha
mengalihkan perhatiannya dari buku.
“Hm?” Ia sama sekali tidak
mengalihkan perhatiannya kepadaku.
“Ndy.” Panggilku lagi.
“Hm?” Kembali ia merespon dengan hal
yang sama seperti pertama.
“Andyyyyyyyyyyyy.”
“Jangan berisik Kar, ganggu yang
lain.”
Brak!
Andy yang tidak teralihkan dari
bukunya kini menatapku dengan wajah heran. Lima cewek yang sedang mengerjakan
soal pun menatap ke arahku dengan bingung. Pengunjung-pengunjung di
perpustakaan yang ada di sekitarku juga jadi menatap heran ke arahku.
Sudahlah, kepalang tanggung karena
aku menggebrak meja. Sekalian aja luapin semua emosi yang udah lama aku pendam.
“Mending kita putus kalo gitu!
Pacaran aja tuh sama buku dan adik-adik lo itu! Dasar cowok gak peka dan gak
romantis!”
Setelah berteriak dengan volume
semaksimal mungkin. Aku berlari keluar dari perpustakaan dan memberhentikan
taksi untuk pulang ke rumah.
- - - - -
Suara radio
menemaniku sedari tadi. Sudah lima hari ini aku tidak bertemu Andy. Yah,
sebenarnya aku yang menghindar. Setiap berpapasan dengannya, aku pasti selalu
mencari cara agar aku tidak perlu bertegur sapa dengannya. Entah itu dengan
memutar jalan, menunduk, atau pura-pura mengobrol dengan temanku.
Jujur aja. Aku kangen Andy, tapi
setelah kejadian aku pergi dari perpustakaan itu, ia sama sekali tidak
menghubungiku. Bahkan datang ke rumah saja tidak. Aku benar-benar marah dan
bete sama dia. Sampai aku bertanya-tanya, yang pacarnya dia tuh aku atau lima
cewek yang diajarin sama dia waktu itu? Ah sudah, aku malas mengingat-ingatnya.
I
can’t sleep...
Everything
I ever knew
Is a
lie, without you...
I can’t
breath...
When my
heart is broke in two
There’s no
beat, without you
You’re
not gone, but you’re not here
At least
that’s the way it seems tonight
If we
can try to end these wars
I know
that we can make it right
Iiih, ini lagu apasih. Kok ngeselin
banget liriknya. Kan aku yang lagi marah sama Andy gara-gara dia gak perhatian,
tapi kenapa sekarang aku yang ngerasa bersalah gini sama dia. Ah, gara-gara
lagu ini.
Dengan kesal aku mematikan radio.
Membenamkan wajahku pada bantal kasur. Aku kesal sama Andy, tapi aku lebih
kangen sama dia. Hiks.
- - - - -
Aku dan
Shafa masuk ke dalam kantin kampus. Hari ini aku benar-benar galau, sekarang
sudah genap seminggu Andy tidak menghubungiku. Apa dia benar-benar menganggap
kami sudah putus ya? Aduh, memikirkannya saja aku sudah sedih. Seharusnya, aku
tidak asal bicara saat kesal waktu itu.
“Sekar! Liat, liat! Itu Andy bukan?”
Shafa menyikut-nyikut lenganku. Membuatku mengikuti arah pandangnya.
Ah, ya benar, itu Andy. Tapi dia
sama siapa? Mereka hanya berdua dan mereka berbeda gender.
“Bener kan itu Andy! Sama siapa tuh
Kar?” Shafa kembali suara, membuatku kembali harus mengalihkan perhatian
kepadanya.
Aku hanya bisa menggeleng. Ya, aku
memang gak tau.
“Loh kok gak tau? Samperin gih Kar,
masa lo biarin pacar lo berduaan sama cewek lain gitu aja?” Shafa
memprovokasiku. Yah, cewek di sebelahku ini memang cukup unik. Entah dia
kenapa, sampai sangat suka dengan sebuah keributan.
“Gak ah, toh gue juga gatau sekarang
status gue masih pacar dia atau bukan.” Ucapku sambil melenggang masuk ke dalam
kantin meninggalkan Shafa yang masih kebingungan dengan ucapanku.
Aku tidak peduli, aku terus berjalan
sampai mendapatkan bangku yang nyaman untuk ditempati. Akhirnya aku menemukan
kursi yang nyaman, segera saja ku jatuhkan diriku di atas kursi tesebut.
Ngomong-ngomong Shafa mana ya, kok
lama sih. Aku pun memeriksa ponsel, sembari menunggu Shafa sampai ke sini.
Dasar deh anak itu, jalan kayak siput, seakan-akan kantin ini seluas Gelora
Bung Karno jadi untuk sampai ke sini aja lama banget.
Seseorang menjatuhkan dirinya di
atas kursi dihadapanku. Akhirnya Shafa sampai juga.
“Shaf, lama amat sih....”
Mataku membulat, terkejut melihat
sosok yang kini sudah terpampang nyata berada di depanku.
“Kar, aku mau bicara sama kamu.”
Aku membuang muka, mengacuhkan suara
serta keberadaanya.
“Kar, aku mau ngomong serius.”
Ayolah Sekar, jangan sampai
ketenanganmu terusik hanya karena mendengar suara cowok di depanmu ini.
“Kirana Sekar.”
Ah, dia curang. Dia melembutkan
suaranya dan memanggilku dengan nama lengkap. Dasar cowok curang.
“Kirana Sekar, aku mau bicara. Kamu
mau dengerin aku kan?”
Jangan dengarkan Sekar. Nanti
pertahananmu runtuh.
“Ih, Shafa mana sih? Kok lama
banget.” Untuk memaksimalkan usahaku untuk mengacuhkannya, aku terpaksa
bergumam sendiri seperti orang gila.
Aku mencari-cari keberadaan Shafa di
dalam kantin ini. Nihil. Kemana dia? Kok ninggalin aku sih? Loh, cewek yang
tadi sama Andy juga udah gak ada. Ah lebih baik aku pergi juga dari sini.
Aku menyandangkan tasku dan beranjak
bangun dari kursi. Sebelum aku benar-benar bangkit, Andy menangkap pergelangan
tanganku sehingga aku tidak bisa berdiri.
“Kirana Sekar, ikut aku ya, sekali
ini aja ikut aku, nanti kalau kamu gak suka, aku gak akan maksa-maksa kamu
lagi. Oke?” Bujuknya sambil memandangku tepat di manik mata. Sial. Matanya
mengunci mataku.
Sepertinya aku terkena hipnotis.
Lihat saja, aku mengangguk dan membiarkan Andy membawaku entah kemana.
- - - - -
Kami
sekarang berada di luar kawasan kampus kami. Entahlah, aku masih belum bisa
menebak kemana Andy akan membawaku. Aku meliriknya dari ekor mata, dia terlihat
tenang-tenang saja. Apa orang itu gak ngerasa bersalah sama aku ya? Ah,
sungguh, aku gak ngerti jalan pikiran Andy.
“Nah udah sampai,” Ucapnya yang
membuyarkan pandanganku terhadapnya. Ia memandangku sambil tersenyum. Dengan
cepat aku memalingkan wajah. Aku harus tetap mempertahankan posisi marahku,
jangan sampai sebuah senyuman melunturkan pondasinya. “Yuk turun!”
Andy turun dari mobil. Membukakan
pintuku sebelum aku sempat membukanya. Kembali dengan senyumannya ia
memandangku. Ah, Andy, stop! Jangan buat aku semakin kangen sama kamu.
“Ayo.” Dengak seenaknya dia
menggandengku, tapi tanganku lebih seenaknya lagi karena dia tidak mau menuruti
perintahku untuk menepis tangan Andy. Uh, tangan sama otak gak sinkron nih!
Kami berdua menyusuri sebuah jalan
setapak, ada beberapa rumput yang tumbuh dan membentuk seperti kelompok.
Menurutku ini belum bisa disebut sebagai padang rumput karena jumlah rumputnya
belum banyak.
Sebuah kursi kayu terlihat di depan
kami, ada dua kursi, di salah satu kursi tersandar sebuah gitar yang kukenali
adalah gitar milik Andy. Andy membawaku untuk duduk di salah satu kursi,
kemudian ia duduk di kursi lainnya sambil memangku gitar. Ia mulai memetik
senar gitar.
Day
after day.
Time pass away.
And I just can’t get you off my
mind.
Nobody knows, I hide it inside.
I keep on searching, but I
can’t find.
The courage to show.
To letting you know.
I never felt so much love
before.
And once again, I’m thinking
about.
Taking the easy way out.
But if I let you go.
I will never know.
What my life would be,
Holding you close to me.
Will I ever see,
You smilling back at me.
How will I know?
If I let you go.
Night after night.
I hear myself saying
Why can’t this feeling just
fade away?
There’s no one like you.
You speak to my heart.
It such a shame we’re world
apart.
I’m too shy to ask.
I’m too proud to lose.
But sooner or later, I gotta
chose.
And once again I’m thinking
about.
Taking the easy way out.
But if I let you go.
I will never know.
What my life would be,
Holding you close to me.
Will I ever see,
You smilling back at me.
How will I know?
If I let you go.
Aku menatap sosok di depanku dengan tidak percaya. Ia meletakkan gitarnya
dalam posisi semula. Ia berdiri, matanya masih terus menatapku tanpa berpaling.
Senyumnya masih setia tersungging di bibirnya. Ia mengambil kedua tanganku,
menggenggamnya erat.
“Kirana Sekar, aku minta maaf. Maaf
atas kekuranganku selama ini. Maaf karena belum bisa menjadi yang terbaik untuk
kamu. Maaf karena aku belum mengerti kamu,” ucapnya pelan tapi tegas. “Aku
sadar, selama ini belum menjadi sosok yang kamu inginkan. Aku menyesali itu
semua. Jangan menghindar dari aku lagi, jangan pernah pergi dari aku lagi.”
Aku masih menatap Andy dengan wajah
tidak percaya. Aku terharu, tidak percaya, sedih dan merasa sedikit kesal
dengannya. Dia benar-benar bisa mencampur-adukkan perasaanku.
“Maafin aku ya?”
Tak terasa sebulir air mata jatuh
dari mataku. Astaga.
“Maaf kalau udah nyakitin kamu. Aku
minta maaf.” Ucapnya lagi.
“Kenapa ga nelpon selama seminggu?”
Hanya itu kata-kata yang bisa aku keluarkan.
Lagi-lagi ia tersenyum. “Aku minta
maaf. Ternyata aku butuh waktu selama seminggu untuk ngeyakinin diri aku
sendiri kalau aku pantas untuk kamu.”
“Aku kangen kamu Ndy....”
Aku menghambur dalam pelukan cowok
ini. Hangat. Seperti biasanya. Ah, betapa aku merindukan dirinya.
“Permintaan maaf diterima?”
tanyanya.
“Yang di kantin tadi siapa?”
Andy tersenyum. “Teman.”
“Yakin teman?”
“Tanya aja sama Shafa.”
“Ih... Jadi Shafa tau?”
Andy mengangguk. “Jadi, pemintaan
maaf diterima?”
Aku mengangguk. Kembali
menenggelamkan wajahku di atas dadanya.
“Kalau permintaan maaf sudah
diterima, apa permintaan ini juga akan diterima?”
Aku mendongak. Menatapnya dengan
heran. Ia hanya tersenyum. Melepaskan pelukanku dan memposisikan dirinya
bersimpuh di depanku. Tangannya merogoh saku celananya. Sebuah kotak beludru
biru dikeluarkannya. Begitu kotak itu dibuka, aku kembali terkejut.
“Will
you be the only one for me until forever?”
Cowok ini. Benar-benar. Ah, aku
sangat-sangat mencintainya.
“Yes,
I will.”
Ia mengeluarkan isi kotak tersebut
yang berupa cincin dengan batu permata berbentuk lambang tak terhingga dan
menyematkannya di jari manisku. Ya Tuhan, terima kasih telah membuatku bahagia
hari ini. Aku harap, bahagia-bahagia lainnya menyusul di kemudian hari.
THE END
Ais
BalasHapus