Kamis, 30 April 2015

Hati Ketiga: I'll Always Next to You

Salisa Rahmadita & Bintang Timur


     You're reaching out,
     And no one hears you cry.
     You're freaking out again,
     'Cause all your fears remind you,
     Another dream has come undone.
     You feel so small and lost like,
     You're the only one.
     You wanna scream,
     'Cause you're desperate.


Salisa mengusap wajah dengan kedua tangannya. Depresi. Satu kata yang menggambarkan keadaanya sekarang ini. Tidak sampai hilang kewarasan, tapi hanya menyebabkan sebuah luka dalam hatinya. Baru dua hari yang lalu ia menerima kenyataan pahit. Kekasih yang sudah menjalani hubungan dengannya selama tiga tahun membuat keputusan untuk mengakhiri hubungan mereka. Kekasihnya mengatakan, ia ingin fokus di pelajaran. Klise, sangat klise.
     Berlebihan. Mungkin gadis ini bisa dibilang seperti itu. Tapi sungguh. Gadis ini merasakan perih untuk yang pertama kali. Cowok yang baru saja mengakhiri hubungan dengan Salisa adalah cowok pertama yang berhasil menembus dinding hati Salisa yang kokoh. Sayang saja, cowok itu kini menghancurkannya.
     "Dih, lo ngapain di situ udah kayak curut aja?"
    Sebuah suara yang sangat dikenal Salisa membuat ia menghapus air matanya dengan kasar. Ia mendongak lalu menatap sebal pemilik suara tersebut.
     "Lah, lo kenapa? Jelek amat kayak abis kecebur got."
     Salisa mengepalkan kedua tangannya. Ia berdiri kemudian memandang pemilik suara tadi dengan pandangan membunuh.
     "Dih, kenapa lo?"
     "Lo yang ngapain?!!" Teriak Salisa keras.
     Pemilik suara yang ternyata adalah seorang cowok itu memutar bola matanya. "Harusnya lo jawab pertanyaan gue kali."
     "Apa sih urusan lo?!!"
     "Dih santai aja kali. Udah muka lagi jelek banget gitu, marah-marah."
     "Bintang!! Lo bisa serius gak sih?!"
     "Biasa aja kek Sa, galak amat."
   Salisa mengatur napasnya. Kenapa Bintang harus ada di sekitarnya ketika ia dalam keadaan badmood. Bisa makin-makin badmoodnya karena keberadaan Bintang.
     "Lo ngapain di sini?" Tanya Salisa dengan nada lebih renda dari sebelumnya.
   "Ambil bola." Bintang berjalan ke rak penyimpanan bola sepak, mengambil dua buah bola dari keranjang.
     "Ya udah sana pergi!" Usir Salisa.
    "Santai aja kali." Jawab Bintang sambil berjalan menuju luar. Sebelum benar-benar keluar, Bintang berbalik dan menatap Salisa yang dibalas dengan tatapan kesal oleh Salisa. "For your information aja nih ya, setau gue gudang ini ada penunggunya. Hati-hati nanti lo ditemenin loh nangisnya."
   Setelah berkata seperti itu, Bintang keluar dari gudang meninggalkan Salisa yang tiba-tiba saja merasa ketakutan akibat perkataan cowok tadi. 

- - - - -

Salisa masuk ke dalam kelasnya sambil agak menunduk. Walaupun ia sudah membasuh kedua matanya dengan air, bekas air mata masih cukup terlihat. Begitu sampai di mejanya Salisa langsung menjatuhkan tubuhnya, ia meletakkan ponselnya di laci meja. Kegiatannya terhenti begitu merasakan di dalam laci mejanya tidak kosong. Ia mengambil sesuatu dari dalam lacinya. Sebatang cokelat dan satu pak tisu basah. Dahi Salisa mengerut. Dari siapa ini? Kalau ini dari penggemar rahasia, kenapa ada tisu basahnya juga? Apa yang mengirim ini tahu ia habis menangis? Tapi kan, yang tahu dia habis menangis hanya... Ah tidak mungkin.
     "Woy No! Siniin apa handphone gue!!"
    Salisa menoleh ke arah suara berasal. Di sana ada Bintang dan Rino yang sedang saling mengejar satu sama lain.
     "Sal! Sal! Liat deh!" Rino mengacung-acungkan ponsel yang berada dalam tangannya.
  "Ah elah lu No!!!!" Teriak Bintang kesal membuat Rino tertawa kencang, sedangkan Salisa kebingungan.
     "Kenapa No?" Tanya Salisa.
    Rino terkekeh sambil menggeleng. "Gak papa Sal." Rino pun mengembalikan ponsel Bintang dan diterima Bintang sambil menggerutu.
   Salisa memandang Bintang dengan tatapan aneh, sehingga yang ditatap balas menatap dengan lebih aneh. "Kenapa lo liat-liat gue?! Suka aja ntar!" Ketus Bintang. Ia dan Rino pun duduk di kursi mereka.
     "Ish males banget gue!" Balas Salisa kesal.
     "Salisaaaaaaaaaaaa!!!"
     Bunyi sepatu yang bersentuhan dengan lantai terdengar semakin mendekat ke arah meja Salisa. Salisa mendelik, temannya yang berisik datang lagi.
     "Sal lo ke mana aja sih?! Gue kan nyariin elo!" Cecar Tika kepada Salisa.
     "Daritadi gue di kelas." Jawab Salisa.
     "Bukannya olahraga lo!" Balas Tika. Cewek itu duduk di bangku sebelah Salisa.
     "Pak Dinonya juga gak ada, males banget gue olahraga." Jawab Salisa lagi.
     "Ye elo, gerak dikit kek. Males banget jadi orang." Kata Tika sambil berdecak pelan.
     Salisa tidak peduli, kini ia membuka ponselnya.

     Ting!
     Satu chat masuk di ponsel Salisa. Ia membukanya.

     Bintang Timur:
     Kibul bener daritadi di kelas!

   Lagi-lagi Salisa mendelik, ia melirik Bintang yang sedang sok-sok bersiul tak jauh darinya. Di sebelahnya Rino hanya menahan tawa.

     Salisa Rahmadita:
     Bacot.

    Setelah membalas chat dari Bintang, Salisa mengambil tas sekolahnya dan menjadikannya bantal untuk tidur.

- - - - -

Salisa merapikan buku-bukunya dengan gerakan cepat. Hari ini ia tidak mau berlama-lama di sekolah. Moodnya benar-benar tidak mendukung hari ini. Begitu buku terakhir masuk ke dalam tasnya, Salisa bergegas keluar dari sekolah.
     Biasanya ia selalu melintasi lapangan, tapi kali ini ia tidak mau, ia tidak mau bertemu dengan Wafi karena biasanya Wafi duduk-duduk di sekitar lapangan. Dulu, saat mereka berdua pacaran, Salisa sering menemani Wafi berkumpul dengan teman-temannya juga teman-teman Salisa di lapangan.
     Baru saja Salisa akan melintasi lobby sekolahnya, langkahnya langsung terhenti begitu melihat sebuah pemandangan tak mengenakkan di matanya.
     Itu Wafi. Bersama dengan Tika. Ya, Tika teman sebangkunya. Mereka sedang berjalan mendekat ke arah Salisa. Tangan kanan Wafi sedang menggamit tangan Tika. Rasanya Salisa ingin segera pergi begitu saja dari sana ketika melihatnya, tapi entahlah, kakinya tidak dapat bergerak sedikit pun.
     Sialnya kedua pasang mata insan yang ada di depan Salisa melihat keberadaan Salisa. Segera Tika melepaskan tautan tangannya dengan Wafi dan berjalan mendekat ke arah Salisa.
    "Sal, sorry gue... gue... gue gak maksud." Tika menyentuh lengan Salisa tapi segera ditepis oleh Salisa sendiri.
    Tanpa menjawab kata-kata Tika, Salisa berlari entah ke mana. Tika hendak mengejar Salisa, tapi tubuhnya tertahan oleh sebuah tangan.
   "Gak usah sok-sok ngejar dia kalau lo sendiri senang dia kayak gitu." Itu Bintang. Ya Bintang Timur. Begitu ia memberikan sebuah tatapan tajam kepada Wafi yang hanya diam saja, Bintang mengejar Salisa yang entah sudah ada di mana.

- - - - -

Bintang mencari Salisa di seluruh penjuru sekolah. Ia yakin Salisa masih ada di sini. Gadis itu tadi menangis dan ia tidak akan mungkin naik angkutan umum dalam keadaan seperti itu. Tapi di mana lagi gadis itu? Semua tempat di dalam sekolah sudah diperiksanya, oh tunggu, ada satu yang belum, gudang penyimpanan peralatan olahraga.
     Sesegera mungkin Bintang berlari ke arah sana. Begitu sampai, ia langsung membuka pintu dan benar saja, terdengar suara orang yang sedang menangis. Perlahan Bintang melangkahkan kakinya mendekat ke arah Salisa. Gadis itu sedang terduduk menghadap setumpuk raket yang sudah usang, ia tidak menyadari kehadiran Bintang karena ia duduk membelakangi pintu gudang.
    "Gembel banget deh kalau lagi nangis." Bintang bersuara membuat Salisa menoleh ke arahnya. Bintang agak terkejut melihat wajah gadis itu, matanya lumayan merah untuk ukuran orang yang belum memakan waktu yang lama saat menangis. Hebat sekali kekuatan sakit hati, bisa membuat mata orang merah dalam sekejap.
    "Ngapain, hiks, lo, hiks, di sini?!" Di sela-sela tangisannya, Salisa masih bisa bertanya kepada Bintang dengan suara galak.
     Bintang tak menjawab, dia mendekat ke arah Salisa dan duduk di sebelahnya.
   "Bener-bener kayak tikus kecebur got ya lo." Komentar Bintang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
    Salisa memukul lengan Bintang dengan sekuat tenaga, membuat cowok itu mengaduh kesakitan.
   "Duh Sa, kok lo anarkis banget sih?" Protes Bintang. Ia mengusap-usap tangan yang menjadi korban pukulan Salisa.
   "Kalau lo cuma mau ngejekin gue, mending lo keluar deh!!" Suruh Salisa dengan suara tinggi.
  "Nangisnya pindah tempat ya? Sekolah udah mau ditutup, nanti kita gak bisa keluar?" Tutur Bintang tanpa menghiraukan suruhan Salisa.
   "Gak usah ikut campur urusan gue!!" Bentak Salisa.
  Bintang mendengus keras, gadis ini benar-benar keras kepala. Tanpa berkata apa-apa lagi, Bintang mengangkat tubuh Salisa dan membawanya keluar dari gudang.

- - - - -

"Tang lo punya otak gak sih?!" Maki Salisa kesal.
     Mereka berdua kini sudah berada di belakang gedung tak terpakai. Bintang sedang duduk di atas rumput sementara Salisa berdiri sambil berkacak pinggang.
     Melihat tak ada jawaban, Salisa menggeram kesal. Ia menghentak-hentakkan kakinya melepaskan rasa kesal yang sedang ia rasakan sekarang ini.
    "Nih," Bintang menyodorkan sekotak tisu basah kepada Salisa. Salisa menolak keras pemberian dari Bintang dan ia merogoh tasnya sendiri. Ke mana tisu basah miliknya? Kok hilang? Salisa memandang Bintang sedangkan yang ditatap hanya nyengir. "Gue ambil dari tas lo, hehe."
    Dengan kasar Salisa mengambil tisu itu dari tangan Bintang, mau tak mau ia duduk di sebelah Bintang karena merasa pegal terus berdiri. Ditariknya selembar tisu dan ia melap wajahnya, terutama kedua bola matanya, dengan tisu basah itu.
     "Jangan nangis lagi ya?"
    Salisa menoleh, ia heran mendengar ucapan yang tiba-tiba keluar dari mulut Bintang.
     "Jangan nangisin hal yang sia-sia ya?"
    Salisa tak menjawab, ia hanya mengerutkan keningnya meminta penjelasan dari semua perkataan Bintang.
    "Jangan stuck sama mantan lo yang brengsek itu ya?"
   Mendengar perkataan Bintang, Salisa ingin membalasnya, tapi cowok itu lebih dahulu menyela kata-katanya.
    "Bisa gak lo lihat yang lain?"
  Kembali Salisa menyerngitkan dahi, kali ini ditambah dengan sebuah cemberut. Apa maunya cowok ini sih!
   "Bisa gak lo buka hati untuk orang lain?"
  Oke cukup Bintang, Salisa benar-benar tidak paham apa yang sedang cowok itu katakan. Salisa mengepalkan tangannya dengan keras, bersiap untuk memukul cowok itu.
    "Gue sayang sama lo."
   Bintang! Ngese-- eh tunggu, tadi dia bilang apa? Salisa menggumam dalam hati.
    "Apa?"
   Bintang menatap lekat manik mata Salisa, pandangan gadis itu benar-benar terkunci. "Gue sayang sama lo, cewek anarkis!"
   Salisa terdiam, otaknya masih mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Bintang.
  "Mau gak lo jadi pacar gue?" Lagi-lagi Bintang bersuara, ujung-ujung bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman yang paling terbaik.
   Seketika perasaan sedih dan sakit hatinya terlupakan. Kini Salisa hanya bisa diam seribu bahasa.

TAMAT

1 komentar:

  1. ini hampir mirip true story dengan nama beberapa tokoh diganti ya kak?:(

    BalasHapus