Aku rindu kalian, teman-teman yang telah mengukir kenangan.
Aku rindu canda tawa kalian, aku rindu celotehan kalian, aku rindu tangisan kalian, aku rindu tatapan mata kalian, aku rindu tingkah laku kalian.
Kalian terbaik di antara yang baik, pengisi hidupku yang mungkin tidak berwarna tanpa kalian.
Tapi, kemakanah kalian sekarang ini?
Kemanakah canda tawa itu? Kemanakah tangisan-tangisan itu?
Kemanakah tatapan-tatapan bahagia itu?
Lebih baik melihat kalian menangis, daripada melihat kalian menjadi beku.
Beku, seperti es yang berada di kutub utara.
Tanpa ada sapa, tanpa ada ekspresi.
Entahlah, semua terasa kosong.
Hampa, bahkan tidak tersentuh.
Ada apakah ini kawan?
Apakah terjadi sebuah kesalahan?
Tidak bisakah kita kembali memperbaiki itu semua?
Memperbaiki semua keadaan ini dengan mengenang apa yang telah kita lakukan bersama.
Sebuah pengorbanan, untuk membuat nama baik.
Sebuah pengalaman, agar kita menjadi pribadi yang lebih dewasa.
Mungkin kalian ingin meraih cita-cita kalian.
Ya, aku juga sama.
Tapi, apakah itu menjadi penghalang untuk kita semua kembali bersama?
Mungkin, meraih cita-cita bersama lebih mengasyikkan daripada terpaku dengan diri sendiri.
Oh tenang teman, aku tidak memaksa.
Itu hanya pendapatku.
Pendapat seseorang yang merindukan keberadaan kalian.
Pendapat seseorang yang merindukan kebersamaan.
Sahabat, aku rindu kalian.
Apakah kalian juga begitu?
Jumat, 12 Juni 2015
Kamis, 11 Juni 2015
Untukmu yang telah pergi
Untukmu yang telah pergi.
Tidakkah kamu merindukan kehadiranku?
Untukmu yang telah pergi.
Apakah kamu juga merasa kesepian seperti aku?
Untukmu yang telah pergi.
Terlalu besarkah salahku sehingga engkau memutuskan untuk pergi?
Untukmu yang telah pergi.
Dari lubuk hati, selalu kuhaturkan kata maaf ini.
Untukmu yang telah pergi.
Tak bisakah kamu kembali?
Bisakah kita seperti dulu, tertawa bersama bukan saling terdiam dalam kenangan?
Untukmu yang telah pergi.
Jauh di lubuk hatiku, menginginkan engkau untuk kembali.
Tidakkah kamu merindukan kehadiranku?
Untukmu yang telah pergi.
Apakah kamu juga merasa kesepian seperti aku?
Untukmu yang telah pergi.
Terlalu besarkah salahku sehingga engkau memutuskan untuk pergi?
Untukmu yang telah pergi.
Dari lubuk hati, selalu kuhaturkan kata maaf ini.
Untukmu yang telah pergi.
Tak bisakah kamu kembali?
Bisakah kita seperti dulu, tertawa bersama bukan saling terdiam dalam kenangan?
Untukmu yang telah pergi.
Jauh di lubuk hatiku, menginginkan engkau untuk kembali.
Senin, 08 Juni 2015
Hapus
Terhapus sudah aku bersama dengan serpihan-serpihan egois
Terhapus sudah aku bersama dengan luka yang kutorehkan sendiri
Terhapus sudah aku bersama dengan kenangan yang sia-sia begitu saja
Ini salahku
Salahku yang telah merubah keadaan
Salahku yang telah merusak kebersamaan ini
Maaf ku bukan yang sempurna
Maaf ku bukan yang terbaik
Hak-mu untuk melupakan apa yang pernah terjadi
Hak-mu untuk menghadapi masa depan
Aku hanya bisa berterima kasih
Kepadamu
Sang belahan hati
Yang baru saja pergi.
Terhapus sudah aku bersama dengan luka yang kutorehkan sendiri
Terhapus sudah aku bersama dengan kenangan yang sia-sia begitu saja
Ini salahku
Salahku yang telah merubah keadaan
Salahku yang telah merusak kebersamaan ini
Maaf ku bukan yang sempurna
Maaf ku bukan yang terbaik
Hak-mu untuk melupakan apa yang pernah terjadi
Hak-mu untuk menghadapi masa depan
Aku hanya bisa berterima kasih
Kepadamu
Sang belahan hati
Yang baru saja pergi.
Langganan:
Postingan (Atom)
